Tesis adalah bagian dari Re-Search, mencari kembali kepingan - kepingan nomena menjadi fenomena
Wednesday, July 22, 2009
Proj : Strategi Rumah Sakit
Cav lage tenggelam bersama Ginter. et al yang berasyik masyuk membahas soal strategi rumah sakit. Nanti pasti kutulis disini deh bos kalau dah jadi, sekarang masih berkutat di cara terbaik meningkatkan kualitas rumah sakitnya (rumah sakitnya anonim aja yah. Pokoknya hasilnya nanti aja yah, jam segene dan masih di cyber meninggalkan Mr.Wise yang pasti lage asik terlelap sama bundanya. Kebiasaan lama yang bawaannya ngga bisa tidur kalo belum selesai masalahnya. But, salah satu alasan nulis lagi karena memang ini salah satu cara mengupdate budaya menulis Cav yang makin lama makin caur (meminjam bahasanya Hilman dan Boim le bon).
Sekian lah, ngga perlu banyak kata sekedar membunuh ngantuk dan menunggu subuh
Tuesday, March 3, 2009
Kemungkinan dari femtocells menjadi pembicaraan utama dari industri komunikasi mobile. Secara mengejutkan apa yang dimulai secara sederhana untuk meningkatkan coverage dari di rumah telah menjadi model ekonomis untuk operator menggelar jaringan mobile broadband.
Femtocells adalah salah satu topik terhangat di telekomunikasi. Tetapi benarkah kenyataannya sesuai dengan yang digembor – gemborkan ? Sebelum ke pertanyaan ini kita akan mencoba menjawab pertanyaan mudah : apa yang sebenarnya Femtocells lakukan ? Femtocells menyediakan coverage selular dalam rumah, menggunakan hubungan broadband pelanggan untuk backhaul dan berwujud kotak seukuran router wifi. Operator kemudian mendapat coverage selular yang maksimal dan kelebihan penggunaan mobile di rumah. Ini secara dramatis akan mengurangi biaya operasional karena backhaul dan power disediakan oleh pelanggan. Ini juga akan memampukan penciptaan layanan yang menghasilkan revenue baru. Sementara itu pelanggan, akan mendapat keuntungan dari coverage selular dan mobile broadband yang lebih cepat di rumah. Layanan suara yang lebih kompetitif dan tarif data dan beragam layanan baru.
Premis atau pernyataan mendasar utama dibalik femtocells adalah untuk meningkatkan coverage mobile di rumah. Selama beberapa tahun picocells dan DAS (Distributed Antenna System) telah meningkatkan coverage di pusat perbelanjaan, bandara, dan bisnis besar. Teknologi tertentu bagaimanapun terlalu mahal diterapkan pada lingkungan domestic; tidaklah mudah terus menerus mengirim engineer ke jutaan rumah untuk melaksanakan test dan menginstall perangkat. Di beberapa kasus teknologi sebagai aturan belumlah dibutuhkan sebagai mayoritas luas dari orang di pasar dunia barat yang tinggal di area dimana coverage 2G Mobile terlihat baik.
Pengenalan dari 3G merubah hal ini. Pertama ini mengalami isu mengenai gedung tinggi dibandingkan 2G. Alasan sederhana untuk ini adalah pemindahan dari 2G ke 3G juga melibatkan lompatan di pemindahan spektrum radiol; sinyal frekuensi yang lebih tinggi menjadi lemah pada jarak yang pendek dan tidak akan menembus dinding dengan baik. Banyak pelanggan oleh karena itu menerima sinyal 3G yang terbatas di rumah, hal yang mendukung voice tetapi tidak dalam hal data bandwith tinggi yang 3G sediakan.
Teka – teki yang dihadapi operator 3G sangatlah jelas; mereka berinvestasi besar di lisensi frekuensi dan jaringan untuk mendukung penguasaan data, sampai sekarang jaringan menyediakan kinerja buruk dari indoor dimana mungkin 90 persen atau lebih dimana penggunaan data gunakan.
Ini bukan hanya isu 3G, secara kebetulan: ini hanya menjadi jelas di permulaan. Kebanyakan teknologi mobile broadband memperluas di frekuensi band yang lebih luas yang tersedia di akhir yang tinggi dari spectrum – femtocells dari WiMAX. Sebagai tambahan, beberapa pasar yang masih mengalami coverage 2G mobile yang buruk mencoba mengubah dengan menerapkan 2G femtocells.
Dasar yang penting untuk femtocelss oleh karena itu adalah meningkatkan coverage. Bagaimanapun untuk memecahkan masalah ini pionir dari femtocells juga telah memecahkan masalah lain: dimana untuk menemukan kapasitas untuk coverage tersebut. Femtocells perlu untuk mengalirkan trafik selular dari rumah kembali ke core mobile dan hanya ada satu cara yang dapat dilakukan : pelanggan memperbaiki koneksi broadband. Ini adalah penjualan penting untuk operator mobile.
Kemampuan dari FMC untuk operator menghilangkan jaringan mobile yang mahal dan mengubahnya menjadi jaringan fixed broadband yang dibayar oleh pelanggan. Penghematan biaya adalah hal yang kecil : riset dari ABI melaporkan penemuan bahwa femtocells dapat menyebabkan penghematan akibat backhaul dan biaya energi hingga lebih dari US$70 milyar dolar hingga 2012. Terkait ini sangatlah penting menghargai bahwa sementara jaringan mobile yang ada sekarang secara trafik suara dan SMS secara luas, trafik data broadband tumbuh secara cepat dan akan mendominasi.
Apa yang dimulai sebagai usaha mudah untuk meningkatkan coverage mobile di rumah berubah menjadi model ekonomis bagi operator untuk menggelar jaringan mobile broadband. Dibandingkan mencurahkan investasi di jaringan outdoor untuk menyediakan kapasitas ekstra di backhaul dan femtocells over the air menyediakan alternatif nyata. Juga dengan memecahkan isu penembusan dari dalam keluar, ujung atas dari spectrum, yang menyediakan potensial bandwith yang banyak, tidak menjadi masalah bagi operator mobile.
Tidaklah mengejutkan bahwa femtocells menjadi salah satu hal yang digembor – gemborkan di area industri mobile. Di 2007 Arun Sarin dari Vodafone adalah satu dari banyak komunitas operator yang mengakui potensialitasnya. Google telah berinvestasi dan Sprint-Nextel di Amerika Serikat mengagumkan yang lainnya dan berlomba serta meluncurkan layanan komersial. Bagaimanapun sebagaimana industri mobile telah lihat sebelumnya, segala sesuatunya tidaklah berjalan semulus itu. Lalu apa yang diidentifikasikan sebagai perangkap oleh sebagian pihak ?
Pertama masalah biaya. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah berapa biaya yang dibutuhkan dalam dalam pemesanan femtocells untuk menjadi pilihan yang menarik untuk operator dan apakah baik operator maupun pelanggan mau membayarnya. Satu jawaban untuk hal ini adalah, tidak seperti infrastruktur selular biasa, femtocells mengadopsi sebuah model pelanggan elektronik untuk pengembangan dan produksi. Sebagai hasilnya ini mereka akan mendapat keuntungan ekonomi yang signifikan untuk skala di perakitan dan biaya akan berkurang dari sisi jumlah.. Dalam kuantitas, tidak ada alas an kenapa femtocell menjadi lebih mahal dibanding akses point wifi ke pelanggan. Dalam tiap kasus, model bisnis femtocell juga dalam jumlah besar mengurangi biaya operasional jangka panjang untuk carrier, sehinggan kasus bisnis bukanlah hal yang sensitif di awal biaya femtocell.
Secara mendasar, bagaimanapun, bagaimana perangkat femtocell dibayar tergantung operator. Kebanyakan akan menerapkan model subsidi sebagaimana yang sudah berjalan di telepon mobile; yang lainnya akan menerapkan model yang secara penuh berbayar. Survei menyarankan bahwa kebanyakan pelanggan bersedia membayar untuk coverage istimewa di rumah mereka dan penghematan yang besar untuk tagihan telepon sebagai layanan baru, terutama bilamana ini tersedia di semua handset, dibanding model special yang lebih sedikit. Sebagai tambahan tren dalam bundling “quad-play” yang menyatukan layanan mobile dengan broadband, voice dan layanan rumahan lainnya membuat kesempatan untuk pelanggan memperoleh tagihan tunggal dan kontak poin tunggal untuk semua layanan. Sejajar dengan model ini biaya perangkat femtocell akan jatuh jika diintegrasikan dengan gateway rumah; sudah ada pengumuman dari Netgear and Thompson terkait hal ini.
Setelah biaya, lalu mengenai legalitas ? Secara spesifik, bagaimana jika pelanggan perusahaan menentukan untuk membawa femtocell selama liburan untuk menikmati potongan data dan voice kemanapun mereka pergi ? Hal ini sudah menikmati tekanan jangkauan. Operator, bagaimanapun, terkait spectrum (milik mereka atau operator lain) sebagai aset vital bagi bisnis mereka dan telah mespesifikasikan bahwa femtocell harus dirancang sehingga hal ini tidaklah terjadi.
Femtocells merupakan perangkat cerdas, berbeda dengan “booster” illegal yang bisa diinstal tanpa ijin operator. Femtocell mengetahui lokasi dengan beberapa sarana tehnik, seperti dengan “merasakan” cell cell jaringan sekitarnya dang dengan menggunakan data terkait perangkat keras dan alamat IP dari DSL atau jaringan kabel yang saling berhubungan untuk menyediakan detail lokasi kembali ke operator. Untuk memahami cara kerjanya, anggap telepon selular tidak akan menimbulkan masalah interferensi bilamana dikeluarkan dari pasar lisensi operator; mereka akan dicegah jaringan untuk mentransmisikan pada area yang tidak berijin.
Dan berbicara mengenai hal yang menakutkan, bagaimana mengenai kesehatan ? secara fakta, bilamana analogi dari femtocell sebagai base station selular domestik bersifat instrunktif, juga terbuka menjadi hal yang bisa disalahartikan. Sementara femtocell melakukan fungsi dasar yang sama sebagaimana base station mobile, menggunakan power 10000 lebih kecil bahkan dari sebuah router wifi. Telepon mobile saat terhubung dengan femtocell juga akan mengeluarkan power lebih sedikit dibandingkan lingkungan biasa, yang juga berarti menghemat baterai. Kunci tantangan untuk industri adalah menyebarkan pesan mengenai hal ini.
Tantangan berikutnya hadir dari isu terkait standar dan interapobilitas. Pengembangan femtocell membutuhkan tidak hanya perangkatdi rumah, tetapi juga perangkat di core mobile yang terpadu secara kapasitas dari jutaan femtocell ke jaringan. Sayangnya jaringan mobile dirancang untuk mendukung ratusan dari base station bukan jutaan, ada perangkat tambahan yang dibutuhkan. Isu baru yang timbul adalah operator perlu untuk mengakomodasi produk dari vendor yang berbeda dalam jaringan mereka. Kebutuhan ini harus dilakukan dengan secara minimal merubah jaringan dan pendekatan harus dilakukan selama itu mungkin.
Untungnya, tidak hanya ada jumlah solusi jaringan yang ada dan terstandarisasi yang dapat mengakomodir femtocell, tetapi beberapa vendor juga saling bekerjasama di industri terkait forum femto untuk memastikan solusi yang kompatibel interoperable baik di tingkatan ini maupun lainnya. Sehingga pelanggan tidak terkena dampak dan handset mereka bisa berjalan di banyak femtocell.
Jika isu yang lain tidaklah fatal, mungkinkah frekuensi yang lebih rendah menjadi kematian bagi femtocell ? Tidak hanya amerika serikat yang meluncurkan kembali secara komersial dari band frekuensi 700Mhz untuk teknologi mobile broadband. Terjadi di banyak pasar secara global. Jika masalah coverage dalam ruangan ditingkatkan pada frekuensi rendah, kemudian seseorang akan bertanya akankah femtocell redundant ?
Kenyataan dari situasi kebanyakan bersifat berlawanan. Frekuensi rendah mungkin baik bagi operator mobile sebagaimana untuk pengurangan jumlah base station selagi meningkatkan coverage, dan ada oleh karena itu penghalang kapasitas. Femtocells memudahkan isu ini, sehingga penggelaran makro masal tergabung dengan femtocell pada frekuensi yang lebih tinggi bekerja sempurna. Begitu juga, tidak ada alasan kenapa femtocells tidak dapat digunakan di band frekuensi yang lebih rendah yang tersedia.
Akhirnya, alternatifnya. Tentu saja ada pendekatan lainnya untuk FMC di luar jarak femtocell. Layanan dual-mode tersedia di beberapa handset baru untuk hand off call di rumah; ini kemudian dibackhaul lewat DSL ke core dari Mobile. Isu penting adalah bahwa layanan ini memaksakan pengguna untuk memilih dari sedikit pilihan handset yang cocok yang biasanya baterenya tidak bertahan lama, dibanding dimana lebih dari sepertiga populasi dunia mempunyai telepon yang bisa digunakan untuk femtocell.
Lalu apa berikutnya ? vendor femtocell sekarang ini sedang sibuk membangun lingkungan layanan ke perangkat yang memampukan operator dan pengembang pihak ketiga untuk menciptakan layanan yang lebih murah dari segi keuntungan, jangkauan bandwith yang tinggi di rumah dan kemampuan handset untuk menjadi bagian dari jaringan rumah.
Femtocell mewakili kesempatan yang luas dari industri mobile dan menyediakan layanan ke pelanggan dimana permintaan yang tidak terungkap sudah ada. Konsep dari perpindahan operator jaringan radio ke pelanggan rumahan merubah pemikiran akan selular tradisional di kepala mereka. Hingga kini pernyataan yang menekan semua keuntungan untuk pelanggan dan operator bahwa permintaan tersebut tidaklah dapat ditolak. Mungkin ada tantangan di depan, tetapi tidak ada dari satupun itu dapat diatasi.
Disarikan dari Majalah Mobile Communication International oleh Simon Saunders.
Tuesday, February 24, 2009
Manajemen Risiko (TI)
Menurut National Institute of Standards and Technology (2002:1), Risk is the net negative impact of the exercise of a vulnerability, considering both the probability and the impact of occurence. Risiko adalah dampak negatif dari adanya kerentanan, berdasar pertimbangan baik probabilitas maupun dampak kejadian.
Analisa keamanan risiko dan manajemen risiko perlu diperhitungkan sebagai elemen terpadu dari rencana bisnis organisasi Thomas (dalam Abdullah, 2006:30). Tingkat keamanan di tiap organisasi harus proporsional terhadap risiko. Manajemen risiko adalah proses dari mengidentifikasi risiko, menilai risiko dan mengambil langkah untuk mengurangi risiko hingga ke level yang bisa diterima.
Definisi perbandingan risiko berdasarkan atas perbedaan budaya, bisnis dan lingkungan (Wei, Frinke, Cartert & Ritter, 2001:1). Terkait dengan dunia keamanan informasi, risiko digambarkan sebagai probabilitas yang perantara ancaman (sebabkan) akan mengkesploitasi kelemahan sistem untuk menciptakan kehilangan dari confidentiality, integrity dan availability dari asset ( Carrol, 1996:459)
Konsep berikut yang didapat dari definisi dari risiko membutuhkan penjelasan lebih lanjut. Ancaman dapat didefinisikan sebagai tiap orang atau benda yang membahayakan untuk asset (Whitman & Mattord, 2004:43) . Vulnarebility adalah kelemahan, kekurangan, lubang atau apapun yang mungkin dieksploitasi oleh ancaman yang kemudian akan menghasilkan kerusakan (Broder, 1984:4;Stephenson, 2004:17). Availability adalah persyaratan yang membuat pengguna yang terautorisasi melanjutkan akses ke informasi dan sumber daya sistem (Bace,2000:29). Confidentiality dari informasi adalah jaminan informasi bersifat dapat diakses oleh orang yang terautosiasi untuk melihatnya (Mash,2002:11). Integrity adalah jaminan pesan tidak mengalami perubahan apapun selama dalam pemancaran, baik secara bebas atau karena kesalahan pemancaran (Stanley, 2002:58). Asset adalah sesuatu yang bisa diukur atau tidak bisa diuksur dan bernilai bagi organisasi (Nosworthy, 2000:599; Josang, Bradley (Knapskog, 2004:63).
2. Pentingnya Pengelolaan Risiko
Memahami dan mengelola risiko keamanan TI adalah sesuatu yang penting untuk melindungi sumber daya organisasi (Gilliam, 2004:296). Mengelola risiko menjadi sangat penting dan menjadi pusat dari peraturan tertentu bahkan peraturan pemerintahan (Deloitte & Touche, 2003:8) dibuat untuk menyelenggarakan mekanisme untuk mengelola risiko.
3. Pengertian Manajemen Risiko
Manajemen risiko TI dianggap sebagai peringkat 10 teratas dari prioritas kekal untuk bisnis dan teknologi CIOs (Hunter & Aron,2005:2). Istilah manajemen risiko terdiri atas beberapa definisi sebagai berikut :
Manajemen risiko (Noshworthy, 2000:600), adalah identifikasi dari ancaman dan implementasi dari pengukuran yang ditujukan pada mengurangi kejadian ancaman tersebut dan menimalisasi setiap kerusakan”. ”Analisa risiko dan pengontrolan risiko membentuk dasar manajemen risiko dimana pengontrolan risiko adalah aplikasi dari pengelolaan yang cocok untuk memperoleh keseimbangan antara keamanan, penggunaan dan biaya
implementation of measures aimed at reducing the likelihood of those threats occurring and minimising any damage if they do; Risk analysis and risk control form the basis of risk management where risk control is the application of suitable controls to gain a balance between security, usability and cost.
Menurut NIST (Stoneburner et al.,2001:E-2), manajemen risiko adalah proses dari ”mengidentifikasi, mengontrol dan meringankan sistem informasi terkait risiko” dan melingkupi pengkajian risiko, analisa manfaat biaya, dan pemilihan, implementasi, pengetesan dan evaluasi keamanan dari usaha perlindungan”. Kajian sistem ini harus memperhatikan ” efektifitas dan efisiensi keduanya, baik dampak pada misi dan batasan terkait dengan kebijakan, peraturan dan hukum.”
controlling and mitigating information sysytem related risks; encompasses risk assesment; cost-benefit analysis; implementation, test and security evalution of safeguards
Manajemen risiko memerlukan alokasi sumber daya terbatas untuk ”meringankan risiko, memindahkan risiko atau memulihkan dari kejadian risiko” (Lewis&Davis, 2004:183).
mitigate risks, transfer risks or recover from risk events.
”manajemen risiko harus menjadi aktifitas yang terus menerus yang termasuk fase untuk mengkaji risiko, mengimplementasikan kesadaran promosi kelola dan mengawasi efektifitas”(Paul,2000:122)
ongoing activity; assesing risk; implementing controls; promoting awareness; monitoring effectiveness
Berdasarkan beberapa definisi , paduan definisi dari manajemen risiko diformulasikan sebagai berikut:
Analisa risiko adalah suatu aktifitas untuk mendukung manajemen risiko, dimana manajemen risiko adalah proses terus menerus dari perencanaan, implementasi, promosi kesadaran dan pengawasan dari pengukuran keamanan yang berjalan untuk meringankan, memindahkan, menghilangkan atau mengontrol risiko hingga ke tingkat yang bisa diterima.
4. Tujuan Manajemen Risiko
Beberapa tujuan/sasaran dari proses manajemen risiko adalah sebagai berikut :
Tujuan manajemen risiko adalah mengurangi pembukaan bisnis dengan menyeimbangkan tindakan balasan investasi terhadap risiko (Birch & McEvoy,1992:45) .
reduce business exposure by balancing countermeasures investment against risk.
Tujuan manajemen risiko adalah meminimalisir harapan dari kerugian (Suh & Han, 2003:150)
to minimise the expected loss
Tujuan akhir manajemen risiko adalah ”memilih pengukuran peringanan risiko, pemindahan risiko dan pemulihan risiko untuk mengoptimalkan kinerja organisasi” (Jacobson,2002:1)
select risk mitigation, risk transfer and risk recovery measures so as to optimise the performance of an organisation.
Berdasarkan pemaparan diatas, tujuan manajemen risiko adalah :
Tujuan dari manajemen risiko adalah implementasi dari pengukuran atas peringanan risiko, pemindahan risiko dan pemulihan risiko untuk mengurangi pengungkapan bisnis dengan menyeimbangkan tindakan balasan investasi melawan risiko.
5. Dimensi Manajemen Risiko
Manajemen risiko (NIST, 2002:4) mencakup tiga proses : (1) penilaian risiko, (2) pengalihan risiko dan (3) evalusi serta penilaian. Proses penilaian risiko mencakup identifikasi dan evaluasi dari risiko dan dampak risiko, dan rekomendasi dari pengukuran pengurangan risiko. Proses pengalihan risiko mengacu pada pengukuran pengurangan risiko yang sesuai rekomendasi dari proses penilaian risiko. Proses evaluasi yang bersifat terus menerus adalah kunci dari implementasi sebuah program manajemen risiko yang berhasil.
Thursday, December 21, 2006
Resolusi Dini (Sebuah Harapan ...)

Blog ...
Cav mau cerita soal apa yang diplanning-in belakangan hari ini. Alhamdulillah setelah pikar - pikir Cav sampai di keputusan untuk memilah - milih antara UMB dan UBL. Walau sebenernya harga di UMB agak lebih mahal, tapi Cav belum sempet tuh buat ke "Lab Asal" dan bertanya - tanya harga studi. Kemaren juga sempet konsultasi sama Mr.Asen dan dia menyarankan kembali ke Lab Asal. Memang jalur yang diambil inipun sebenernya agak nyebrang karena beda banget sama yang kemaren ditekuni. Tapi tekad dah kuat di hati dan Insya Alloh maju terus (Semangat !!! kata ..Htinya Cav).
Pernikahan juga sebenernya hal yang Cav pertimbangkan, jika memang Alloh mengijinkan dan memudahkannya tahun depan. Cav bukannya mau ikut - ikutan temen Ber-Enam yang dah duluan akhir tahun ini dan awal tahun depan, tapi inilah saatnya menentukan jalan hidup dan berani lebih bertanggung jawab. Walau hal yang baru Cav jalani belum terlalu memberikan petunjuk, Cav harap semuanya dimudahkan (semua yang kita jalani maksudnya ..Hti). Dalam hati ini selalu optimis Alloh membantu memudahkan , melancarkan dan sudah menentukan.
Semoga Resolusi Dini ini bukanlah bentuk arogansi mahluk hina ... Ya Alloh
Tuesday, December 12, 2006
Perhatian dan Ikut Campur Beda Tipis

Annyeong-haseyo ...
Sebuah judul yang sangat aneh ???. Sebenernya sebuah pelajaran baru untuk Cav, untuk tidak terlalu mau tahu urusan orang (walau sebenernya proses mau tahu ini disebabkan karena kita diberitahu orang lain). Saat dua orang memasuki tipe hubungan serius (komitmen atau lebih lagi menikah) maka sifat proteksi untuk pasangannya menjadi lebih ketat. Satu hal wajar karena disini akan terlihat proses pendewasaan masing - masing diri untuk memahami menggunakan dirinya sendiri. Nah loh memahami menggunakan dirinya ??? Dia akan memaksa atau kadang tak sengaja menempatkan pasangannya sebagai dirinya, sehingga habit atau tingkah laku sehari - harinya diaplikasikan langsung di pasangannya. Proses ini akan semakin rumit bilamana mendekati hari 'H' dimana kedua insan bercinta ini (taelahhh - Cav) akan hanya membicarakan soal acara pernikahan saja.
Lalu sifat over protektif ini akan berkembang menjadi sifat saling kritik. Dan bila dari dasarnya seseorang mempunyai sifat tidak mau dikritik (atau terpaksa menerima kritik demi saran pasangannya) maka hal ini akan menjadi masalah besar. Ah prinsipnya ...
Ya Alloh Ya Robb ...
Mudahkan semua urusan Cav dan temen - temen
Yang bentar lagi istrinya melahirkan mudah - mudahan ibu dan bayinya sehat
Yang baru menikah semoga dimudahkan pembinaan keluarganya
Yang akan menikah sebentar lagi dimudahkan prosesnya
Yang niat menikah tahun depan dilancarkan jalannya (mau ... mau ... mau ...)
Yang sedang pacaran diingatkan batas2nya
Yang masih berjuang semoga dikasi semangat berjuang
Monday, November 27, 2006
MMQ 27 November 2006

Tema : Sifat Alloh At - Tawwa
- Sesungguhnya tiada ketenangan kecuali orang yang diampuni Alloh
- Didalam setiap maksiat yang memuaskan sesungguhnya hanya nafsu
- Ingat , maksiat bisa dosa yang tampak juga bisa yang tak tampak (sombong, riya, merasa soleh)
At - Tawwab
Makna : kembali
- Menurut Imam Al-Ghazali, dalam setiap taubat manusia ada diantara tawwab (taubat) Alloh
1) Taubat : Memberikan taufik
Alloh selalu menarik kita kembali
Makna Taufik : Bimbingan untuk berbuat amal
- Syarat Taubat Manusia :
a) Menyesal
Orang yang taubat takut dengan dosa
Penyesalan hingga tidak ada lintasan untuk berbuat lagi
b) Secara Eksplisit Minta Ampun
Doa Nabi Adam AS
"Robbanagh firlana dzunubana wa kafirlana syaiatina wa tawaffana ma'al abror"
"Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi".
Doa Nabi Yunus
"LAA ILA HA ILLA ANTA SUBHANAKA INNI KUNTU MINAZ DZALIMIIN"
"Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim."
c) harus ada tekad yang kuat tutup semua celah kembali pada dosa
setiap dosa yang terjadi akan mengeraskan hati
d) harus minta maaf
berkait dengan manusia
- Bila ingin ditolong Alloh lakukan langkah berikut :
1) Tekad sangat kuat ; Minta pertolongan Alloh
2) Perbanyak taubat ; Berusaha bersih di pandangan Alloh
3) Jauhi Maksiat ; Tutup semua gerbang menujunya
4) Isi dengan tingkatkan taat
5) Tebarkan Manfaat ; Makin susah makin sering menolong orang
- Budayakan meminta maaf (anak - orangtua, suami - istri)
- Pemaaf sejati harus tercabut sampai akar - akarnya tidak mengungkit - ungkit
- Ingat, agar lebih mantap taubat bayar cepat dengan kebaikan
- 1 niat dosa tidak dicatat, melakukan dosa dicatat 1
- 1 niat kebaikan dicatat, melakukan kebaikan dibalas 10x lipat
- Menurut Ibn At Thailah ;
Dosa yang membuat taubat lebih baik dari taat yang membuat maksiat.
- Jangan pernah menunda taubat, karena kita tak kan tahu apa masih bisa hidup esok pagi
- Supaya dimaafkan orang lain, harus mau memberi maaf sebelum dimintai maaf
- Ciri pemaaf : mencabut sampai ke akar - akarnya
- Hidup tak bisa bahagia tanpa tanpa pertolongan Alloh
- Yang membuat tidak tenang adalah terhentinya kita kepada mahluk // dunia
- Kenapa kita gentar tidak mau diuji ?
Kita nyaman bila keadaan kita yang kurang tidak diketahui oleh orang lain
- Kita harus tunggu saat ujian agar punya cita - cita tinggi
- QS Al - Ankabut : 2
[29.2] Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?
- Orang yang takut ujian yaitu yang jarang belajar
- Banyak ilmu diketahui setelah diuji
*Dicatat ulang setelah tugas PE Switchover SDP oleh Cavalera Nugroho*
Tuesday, September 12, 2006
Paham Islam Yang Berkembang
Beberapa waktu lalu, saya dan beberapa rekan pernah membicarakan masalah
takdir. Tapi saat itu pembicaraan juga ditakdirkan untuk tidak tuntas.
Kemudian jarum wacana bergerak sampai ke INUL yang bisa dimuarakan kepada
"teknik melihat" sehingga persoalan si "ujang" bisa terkendali sehingga
tidak menjadi penting lagi.
Sayup-sayup dikekinian waktu "Ulil and his gang" tertatih tatih mengusung
bendera Liberalisme, yang sebenarnya bukan barang baru, menghadapi
"kemapanan bermasalah" yang sudah berusia "ribuan tahun", yaitu bendera
konservativisme atau sempat juga di cap sebagai radikalisme/
fundamentalisme. He he he... sebenarnya mereka tidak sadar saja bahwa
mereka sebenarnya sedang dikotak-kotakkan oleh "pemain lain nun jauh di
sana yang sungguh canggih".
Liberalisme
Secara ringkas liberalisme, mencoba untuk melihat bahwa Islam itu merupakan
sebuah spirit dalam kehidupan global, berbangsa, malah sampai ke
kemasyarakatan. Mereka tidak segan-segan mereinterpretasi kemapanan
pemahaman keagamaan yang sudah berusia ribuan tahun. Karena kaum
liberalisme ini melihat bahwa kemapanan itu ternyata bermasalah dan tidak
mampu menghadapi kekinian, walau hanya sekedar kekinian sosial budaya.
Apalagi dalam menghadapi kekinian teknologi, politik, globalisasi,
modernisasi, dll. Mereka "melihat" bahwa kemapanan itu sangat bermasalah
dan tidak cukup akomodatif. Dan pengusung liberalisme mencoba meracik obat
penyembuhnya dalam bentuk REINTERPRETASI tekstual keislaman. Tapi disini
perlu muncul kekhawatiran bahwa liberalisme mencoba MENDESAKRALISASI
hukum-hukum sehingga mereka menganggap hukum-hukum "masa lalu" itu sudah
tidak relevan lagi untuk saat ini. Kalau begitu pegangan yang mereka
sakralkan saat ini tinggal APA ??.
Konservativisme
Di kutub kemapanan konservativisme, bertengger PERSEPSI bahwa Allah dan
Rasulnya tidak meninggalkan sedikitpun celah dan kealpaan dalam teks Al
Qur'an ataupun hadits, sehingga tekstual Al Qur'an dan hadist itu mereka
anggap pasti sanggup mengatasi persoalan-persoalan kekinian umat. Ada
kecenderungan di kelompok ini untuk mengagungkan masa lampau (masa
kenabian) dan berusaha menyeret masa sekarang menuju masa lampau itu.
Kelompok ini rindu nostalgia, sehingga mati-matian mereka mencontoh
perilaku "FISIK" Rasulullah dan sahabatnya dalam keseharian. Dalam
beribadahpun kelompok ini sangat memelihara "ATRIBUT FISIK" agar sesuai
dengan contoh Nabi (walau referensinya hanya didapatkan lewat
tulisan-tulisan)
keteter dan terkesan takut-takut, atau malah takut benaran. Karena dalam
bidang ibadah ini ada kata sakti BID'AH. Kata bid'ah ini benar-benar
bertuah, sampai-sampai mereka takut ngapa-ngapain tak terkecuali di
bidang-bidang lain, takut neraka soalnya.
Rusydian
Di posisi yang berdekatan dengan dualisme "mahzab" di atas, dalam
menghadapi celah kehidupan ini telah sejak lama muncul juga pemikiran
bercorak RASIONALITAS. Semua mau dirasionalkan, mau diserba-otakkan, di
gatukkan, DILOGIKAKAN. Pengusung motor rasionalitas ini adalah kelompok
MU'TAZILAH atau kalau dikelompokkan menurut orangnya bisa disebut kelompok
berfikir RUSYDIAN yang diambil dari nama Ibnu Rusydi. Salah satu
"sumbangan" berarti dari kelompok ini pada saat berkuasa adalah lahirnya
ilmu pengetahuan baru yang nantinya ternyata menjadi salah satu cikal bakal
revolusi industri di barat sana. Kelompok ini benar-benar bereksplorasi
dengan kemampuan otak mereka. Landasan mereka juga kuat sekali, salah
satunya:
"Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri
yang merubahnya (al ayat)".
Dalam perjalanannya, kelompok Mu'tazilah ini memunculkan nama-nama besar
dalam ilmu pengetahuan, kedokteran, matematik, dsb. Hasil dari rasionalitas
inilah yang saat ini dengan sangat manis dinikmati oleh negara-negara
Eropa, Amerika, Cina, Jepang, bahkan Komunis sekalipun.
Mereka yang rasional ini tidak punya rasa takut atau terhambat sedikitpun
dalam berfikir dan berfikir, karena Allah sendiri sudah melegalisasinya.
Artinya kalau HANYA berpatokan dengan ayat diatas, maka terlihat bahwa
Allah menyerahkan secara total kepada kita tentang mau kemana kita akan
membawa diri kita. Allah seakan berkata: "MAU-MAUMULAH, AKU NGGAK IKUT-IKUT
LHO". Mereka ikuti anjuran itu. Ehh.. ternyata betul tuh ayat. Mereka aktif
sekali dalam kegiatan penemuan demi penemuan. Bahkan untuk hancur-hancuran
pun mereka mau melaksanakannya. Huh... karepmulah..
Mereka bebas saja, liberal. Tapi masih syukur bahwa kelompok Rusdian dulu
itu masih punya dasar ke-TUHAN-an, artinya masih punya landasan yang memang
SEHARUSNYA begitu. Mereka ketemu dari hasil pencarian mereka:
"Rabbana ma khalaqta hadza bathila subhaanaka faqinaa 'adzabannaar,
...Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia.
Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka."
Gazhalian
Di tengah perjalanan ternyata ada yang merasa "dinomorduakan"
kelompok pemikiran yang bercorak FATALISTIK. Kelompok ini terkaget-kaget
dengan pencapaian kaum rasionalis. Konon kabarnya motor penggerak kelompok
ini adalah AL GAZHALI. Karakterisitiknya antara lain bahwa mereka tidak
mampu mengimbangi kecepatan pemikiran rasionalitas. Disamping itu capaian
otak mereka nggak sanggup mencerna meloncatnya pemikiran-pemikiran
rasionalitas melampaui zamannya. Lalu mereka mulai menciptakan barier dan
batas-batas yang dibuat sedemikian rupa sehingga lambat laun "melanyau"
(melindas) laju rasionalitas sehingga rasionalitas menjadi mandeg. Pintu
ijtihad ditutup habis. Akhirnya mereka duduk termangu menunggu "HIDAYAH",
petunjuk, pertolongan dari Allah. Alasan mereka juga sangat kuat, salah
satunya:
"...tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-
petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-
Di ayat ini, ALLAH memperlihatkan kekuatan-Nya, bahwa kau itu manusia
nggak bisa ngapa-ngapain. Semua kejadian yang menimpa kamu itu karep-Ku
sendiri. Nggak ada sedikitpun usaha kamu berpengaruh kepada keputusan-Ku.
Ehh..... ayat ini lalu membuat kelompok fatalis ini putus asa, merasa
memble. "Ya sudah....., mari kita berdo'a saja, mumpung ada landasan
ayatnya", mereka membatin. Disamping itu mereka juga sudah merasa terdesak
(iri ??) dengan kemegahan duniawi kelompok rasionalis.
Lalu terjadilah pilin-berpilin, jatuh menjatuhkan, bunuh-bunuhan. Siapa
yang berkuasa, maka dia akan menggusur paksa lawan-lawannya. Tak disadari,
karena hati sudah buta, sehingga ilmu pengetahuan yang sudah cukup baik
saat itu dengan melenggang kangkung terbang kepihak "barat". Cantiknya
adalah, pihak barat hanya meninggalkan kitab sastra, kitab bahasa, kitab
apa saja yang bisa membuat orang Islam menjadi JUMUD dan gontok-gontokan.
Yang terjadi terjadilah..
Cilakanya juga, pihak barat HANYA mengambil PENGETAHUANNYA SAJA, sedangkan
landasan hakikinya yaitu TUHAN, tidak mereka bawa sekaligus. Karena mereka
memang sebelumnya sudah mengalami kejadian buruk akibat pertentangan agama
(baca gereja) dengan pengetahuan. Mereka trauma dengan kemandegan
pengetahuan gara-gara doktrin gereja. Sehingga mereka nggak mau mengusung
ketuhanan yang merupakan landasan berpijak atau asal muasal rasionalitas.
Dikira oleh mereka kejadian yang sama dengan gereja dulu akan berulang
kembali.
Liberalisme belum teruji. Konservativisme/
berjalan mundur kayak undur-undur (tapi undur-undur walaupun mundur masih
mengarah maju ke arah tujuannya).
"Rasionalitas terpangkas" ala barat juga bermasalah. Fatalistik gaya "
pasrahan wong jowo (he 3x maaf kalau ada yang tersinggung)
zaman.
Apalagi atuh........ yang bisa diikuti ???.
Lalu apakah berpikir Rusydian, atau Gazhalian itu salah ....?
Lalu posisi yang mengklaim diri sebagai pengusung bendera "pemurnian ajaran
Islam" abad-abad belakangan ini misalnya wahabi, salafi, dan sejenisnya
dimana ??
Walisongo itu di posisi mana ???.
Lalu posisi kelompok tasawuf (disini Syiah bisa masuk kelompok ini, itu
menurut saya, kalau nggak setuju boleh saja) yang sudah berusia ribuan
tahun dimana?.
Apakah ijtihad dan pemikiran ulama-ulama Islam yang sudah berusia ribuan
tahun masih applicable untuk masa sekarang??.
Maunya Qur'an dan Sunnah itu bagaimana sih...?.
Nanti akan kita lihat..., SEDERHANA amat........
Dari artikel yang lalu sebenarnya kutub pemikiran dan kegiatan keislaman
itu bisa disederhanakan menjadi 2 induk besar. Yaitu kutub aktivitas
Liberalisme vs kutub aktivitas Konservativisme/
pemikiran Rasionalisme vs kutub pemikiran Fatalisme.
Sedangkan aktual dilapangan sungguh banyak pecahan masing-masing sisi kutub
ini. Kelompok wahabi, salafi disatu pihak, dan kelompok tasawuf (termasuk
syiah) dipihak lain, sebenarnya berada pada satu sisi yang sama, yaitu
fundamentalisme atau fatalisme. Karena kelompok-kelompok ini begitu kuat
menganut pemurnian tradisi dan sedikit punya keberanian untuk berfikir
bebas. Kurun waktu kelompok ini masuk ke Indonesia sebenarnya lebih
kemudian (si bungsu) dari pada kelompok pedagang dan "wali-wali".
Kalau diperhatikan kiprah Wali Songo, maka saya memberanikan diri untuk
memasukkan Wali Songo ini ke kelompok konservatif yang liberalis, karena
mereka tidak segan-segan membaurkan kebudayaan lokal dengan ajaran Islam
yang mereka bawa. Mereka menginginkan perubahan kepercayaan di masyarakat,
tapi mereka juga tidak takut-takut bereksperimen untuk mengawinkan ajaran
yang di bawa dengan budaya lokal. Sehingga masyarakat saat itu
"berbondong-
saat itu Wali Songo memakai metoda konservativisme murni, saya tidak yakin
bahwa penyebaran Islam akan bisa begitu meluas seperti yang bisa kita
rasakan saat ini. Sekarang saja gaya konservativisme/ fundamentalis ini
sudah terseok-seok, bahkan harus tiarap dulu.
Nah baru sekarang, mari kita bahas "sedikit" apakah masing-masing kutub itu
salah atau benar.
Ulil and his gang, termasuk Nurcholis Majid, yang mengusung pemikiran
Liberal sebenarnya wajar-wajar saja. Kekecewaannya terhadap ke-jumud-an
pemikiran keislaman hampir sama dengan saya, tapi ada bedanya. Nanti akan
kelihatan bedanya. Saya senang dengan cengegesan dia di TV menghadapi
"ketegangan" wajah dan suara penentangnya. Cuma sayang Ulil hanya bermain
di logika agar Islam di redefinisi, karena sudah tidak sesuai dengan
kompleksitas di masyarakat yang semakin besar. Kalau hanya main di logika
maka dia akan dihadapi oleh gelombang besar logika yang sudah berusia
ribuan tahun lalu. Dan ini sudah dan sedang terjadi. Abu Sangkan and his
gang berada dimana ??. Nanti ketemu.
Dilain sisi kelompok Konservative/
mempertahankan prinsipnya. Saya kutip ulang tulisan saya:
" PERSEPSI bahwa Allah dan Rasulnya tidak meninggalkan sedikitpun
celah dan kealpaan dalam teks Al Qur’an ataupun hadis, sehingga
tekstual Al Qur’an dan hadist itu mereka anggap pasti sanggup
mengatasi persoalan-persoalan kekinian umat".
Sebenarnya kutipan itu SUDAH BETUL dan sesuai dengan apa yang saya yakini
juga. Bahwa Allah dan Rasul Nya tidak alpa sedikitpun dalam membuat
perangkat agar umatnya tidak bermasalah dalam kehidupan. Bahwa "kau"
manusia bebas saja melakukan apapun, mau beribadah silahkan, mau durhaka
silahkan, mau mandeg silahkan, mau maju silahkan. Mau rasionalis (kau
buatlah apa yang kamu inginkan agar kau merubah nasibmu sendiri) silahkan.
Mau mewakilkan (tawakkal) kepada-Ku silahkan nanti Ku-buatkan jalan keluar
masalah-masalahmu (makhraja). Mau ilmu pengetahuan silahkan eksplorasi
sesukamu, mau jadi kongkow-kongkow saja karepmulah. Apapun kerjamu dan
maumu, maka Al Qur’an dan sunnah akan menjawabnya dan membenarkannya.
Karena Al Qur’an adalah adalah kitab membenarkan yang benar dan menyalahkan
yang salah. Sedangkan Al Qur’an maha luas dan tak terbatas, yaitu ayat-ayat
Allah di alam semesta, silahkan kau lihat juga, karena kalau kau hanya
sekedar menghafal 6666 ayat tertulis, maka kau belum patuh sepenuhnya
kepada-Ku.
Sedikit (atau banyak ??) kekeliruan kelompok fundamentalis yang ada saat
ini adalah bahwa justru mereka sendiri yang membatasi ILMU Allah sebatas
yang tertulis saja. Mereka membatasi ILMU Allah sebatas apa yang bisa
mereka mengerti dan sampai kepada mereka saja. Cilakanya juga orang hukum
(fiqih), mau berbicara teknologi, berbicara manajemen. Kitab kuning, kitab
satra arab mau disandingkan dengan kompleksitas manusia, ya tertatih-tatih.
Apakah Rusdian dan Gazhalian ini bermasalah?, ya tidak bermasalah juga.
Yang bermasalah adalah pelanjut tradisinya. Gazhali mendapatkan dulu Dzauq
(rasa) bahagianya beribadah, lalu terbit bukunya beribu-ribu halaman.
Penerus tradisinya bertindak terbalik. Bukunya dulu yang dilahap, baru
meraba-raba dzauq-nya. Ya bingung. Sehingga tidak sedikit pengusungnya yang
terganggu jiwanya. Sedangkan Rusdian yang bercorak rasionalitas seakan-akan
mereka menjadi pemilik fungsi kekhalifahan di muka bumi, tapi karena
muaranya seringkali salah, maka ya nggak benar-benar juga.
Maunya Al Qur’an....itu...
Sebenarnya Al Qur’an sudah mengatakan bahwa kalau mau Allah bisa saja
membuat umat itu menjadi satu, tapi Allah menjadikan umat
berkelompok-
Dualitas tadi sebenarnya hanya ibarat "dua muka koin" saja. Allah
menjadikan berpasangan-
namanya. Al Qur’an itu menginginkan umatnya agar meracik rasionalitas kamu
seiring dengan fatalitas penyerahan diri kamu (tawakkal kamu) kepada Tuhan.
Al Qur’an itu menginginkan kamu itu bebas sebebas bebasnya (liberal) dalam
usahamu mewujudkan fungsi kekhalifahanmu, sekaligus imbangi dengan
fundamentalisme ala Bilal dkk. Apapun yang terjadi dia hanya berkata "Ahad,
Ahad, Ahad", dan beliau maju terus. Kalau kau pegang hanya satu sisi saja,
maka sisi lainnya akan memberontak.
Bagaimana memanfaatkan dualitas "mata coin" ini menurut Al Qur’an dan
Sunnah ..?
"Menggabung Kutub Dualitas..." saya rasa sudah cukup panjang, tapi ringkas
dan ringan, yang kata seorang rekan saya terlalu berani, bablas angine...
He he he …. siapa takut ikut patrap kalau hanya sekedar dibilang sesat atau
pahlawan kesiangan...
Dalam artikel terdahulu, saya hanya berusaha memotret apa yang ada dan
terjadi di masyarakat dari dulu sampai saat ini, ringan-ringan saja
sebenarnya. Karena yang njlimet adalah jatahnya para pakar lainnya
seperti..... ya... patrapis yang lainlah. Maka tanggapan dari patrapis
sendirilah yang akan membuktikan dan mengelompokkan bahwa "siapa masuk
kutub yang mana". He.. he.. he.. silahkan.
Nah sekarang mari kita lihat bagaimana maunya Al Qur’an terhadap keberadaan
kutub dualisme pemikiran maupun aktivitas dari potretan saya sebelumnya.
Mari kita ambil landasan qur'aninya:
Landasan -1, (L-1)
"...Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan
baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada
disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya
Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan
urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan
ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu". (At Thalaaq 2-3)
Landasan -1, (L-1)
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam
dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu)
orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam
keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi
(seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan
sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka". (Ali
Imran 190-191)
Landasan -2, (L-2)
"....Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka
mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah
menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat
menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia". (Ar
Ra'du 11)
Landasan - 3, (L-3)
"Orang-orang itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka
itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya". (Ali Imran 54)
Landasan -4, (L-4)
"...Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan
baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada
disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya
Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan
urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan
ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu". (At Thalaaq 2-3)
Menurut Aliran Tahu yang masuk ke saya, maka paling tidak kepada empat
landasan inilah dualisme kutub di atas bersandar.
Mari kita eksplorasi sedikit saja:
L-1 adalah pole berfikir secara RUSDIAN, artinya memulai dengan
logika-logika, tapi di akhir kalimat ada "rabbana makhalaqta..
...... Rusdian berproses: "kau amati, kau perhatikan, kau respons
logika-logika yang ada sampai kau temukan kekuasaan TUHAN atau ketemu
ALLAH. Jadi Rusdian melihat logika alam, logika fitrah, naturalnya, maka
ketemu "rabbana ....", ketemu Tuhan.
L-2 lebih ekstrim lagi, bahwa di dalam memberi kebebasan berfikir dan
bertindak kepada manusia "free will", Allah sampai-sampai "mundur". AKU
ingin mundur dari pemikiran mu, AKU nggak ingin terlibat, AKU gak
melok-melok. Disini Allah memberikan kebebasan otak kita untuk berfikir
(liberal), sehingga seolah-olah Tuhan ingin lepas tangan. Ini kan kalau
dilihat esensinya sama dengan berfikir ATHEIS sebenarnya. SAMA..... Jadi Al
Qur'an, memfasilitasi orang menjadi atheis. Allah nggak pernah atau nggak
perlu ikut-ikut dalam urusan saya, saya akan berfikiran salah atau tidak
terserah saya. Ini saya yang menentukan, saya mau maju atau mundur saya
sendiri yang menentukan.
TAPI...... kemudian ALLAH baru memperingatkan, memberikan rambu-rambu juga
lewat (L-3) "wama karu wama karallahu wallahu khairul makirin", bahwa "kau
bikin training, kau bikin rencana, kau bikin makar, kau bikin
logika-logika, training AKU yang terbaik, rencana AKU yang terbaik, makar
AKU yang akan terlaksana". Inilah indahnya Al Qur'an, selalu ada
keseimbangan. Dalam Al Qur'an inilah fitrah manusia difasilitasi.
Yang paling jarang dipakai orang adalah L-4: "Barang siapa yang mewakilkan
dirinya kepada ALLAH, maka Allah akan buatkan way out dari permasalahanmu,
Allah bikinkan logika-logikanya"
logika, nggak mikir. Tapi begitu kau wakilkan dirimu "tawakkal" kepada
Allah, maka kubuatkan logika-logika sebagai "makhraja" jalan keluar dari
persoalan-persoalan
Bagaimana praktek dimasyarakat.
telah dibuka Al Qur'an ini.?
Praktek di masyarakat terlihat bahwa kita banyak ketimpangan dalam
menyikapi dua kutub diatas. Ada orang yang memposisikan dirinya hanya di
satu sisi saja. Misalnya ada yang berkutat dengan logika-logika seperti si
Ulil, ada juga sebaliknya nggak mikir apa-apa dan mencukupkan
tulisan-tulisan atau informasi yang masuk ke otaknya saja. Bahkan tidak
jarang ada yang mengusung pemikiran yang sudah out of date sebenarnya.
Kalau hanya berada disatu sisi saja, maka namanya nggak sempurna, tidak
KAFFAH. Kalau begitu apakah salah kalau hanya mengusung satu sisi saja..?.
Ya ndak salah juga, cuma kelirunya adalah kenapa menutup diri untuk menjadi
sempurna.
Nah maunya Al Qur'an itu sederhana sekali:
Gunakan lah logika mu sepuasnya sehingga ketemu way out, akan tetapi harus
ketemu Tuhan juga dalam perjalananmu. Atau ketemu Tuhan dulu dan mewakilkan
apa saja kepada-Nya, lalu ketemu juga logika-logika, way out-nya.
Artinya, ya.... rasionalitas dan fatalistik harus berjalan bersama pada
diri pribadi-pribadi.
Ya.... Liberalisme dan fundamentalisme harus seiring pada keseharian kita.
Hasilnya...apa?
Saat anda mengaku dekat dengan Tuhan, maka coba tengok apakah ada muncul
logika-logika. Tapi syaratnya logika itu tidak ABSURD. Kalau absurd maka
namanya Gendeng Pamungkas. Tinggalin saja. Atau saat engkau memainkan
logika, maka apakah kau ketemu Tuhan juga....
Makanya kalau kita mempunyai latar belakang yang berbeda, lalu
masing-masing KEKEH dengan egonya sendiri, maka beginilah jadinya. Yang
terjadi terjadilah. Pasti pertentangan.
Qadariyah vs Jabariyah. Rasionalitas vs Fundamentalis. Jangankan antar
kedua sisi yang berbeda itu, kelompok yang notabene berada pada sisi yang
sama (sama fundamentalsinya) juga terjadi pertentangan. Misalnya antara
Ahlussunah vs Syi'ah. Keduanya saling mengacungkan telunjuk, saling
menyalahkan, saling menyesatkan. Bahkan tidak jarang saling mengkafirkan.
Karena memang tidak ada lagi rasanya kata-kata yang lebih dahsyat dari kata
KAFIR dan SESAT ini. Kalau dua kata ini sudah nggak mempan, maka biasanya
muncul tindakan fisik, "perintah bunuh" misalnya.
Maka mereka yang saling bertentangan itu menguntai hari-hari mereka dengan
BERKUAH DARAH. Bunuh-bunuhanlah sesukamu, seperti yang baru saja terjadi di
Paskistan (kalau benar). Duh kasihan sekali sebenarnya.
Nah menggabung kutub dualisme inilah yang di usung oleh Abu Sangkan. He 10
x... promosi nih ceritanya. Jika Ulil yang masih asyik dengan logikanya
lalu di "ketemukan" dengan ke-Tuhan-an, spiritualitas, maka berkibarlah
dia. Fundamentalis sekaligus liberalis, "top dah". Amerika di kenalkan
kepada Allah, maka selesai sudah keributan dunia. Wong jowo di tarok di
Eropah, maka fitrahlah dia.
Bagaimana caranya Abu Sangkan menggabung dualitas itu ......?
Qadariyah dan Jabariyah atau "sempalan" keduanya secara masing-masing saja
sudah difasilitasi oleh Al Qur'an. Apalagi kalau kedua-duanya disandingkan
sekaligus, maka akan lebih kaffah lagi pemahaman Al Qur'an itu. Akan tetapi
menyatukannya ini PASTI SULIT. Karena perselisihan keduanya sudah berusia
ratusan tahun.
Bagaimana menggabung Rusdian lalu Gazhalian?.
Kira-kira begini: Ketika Allah berbicara kepada fikiran kita, kepada apa
yang bisa kita fikirkan, maka habiskan saja fikiran itu seolah-olah Tuhan
tidak ikut-ikut sampai kau temukan logika atau way out-nya. Nah kalau kamu
mandeg, nggak ada filenya di otakmu, maka jangan bingung-bingung.
"Naikkanlah" ke Allah, kembalikan ke Allah, TAWAKKAL, wakilkan dirimu ke
Allah. Lalu iqra "perhatikan, baca, dengarkan" apakah ada logika-logika
baru atau makhraja yang muncul. Lalu "respons" iqra itu dengan berfikir
habis kembali.....
Prakteknya ya ke Al Hambra....
Kalau tidak muncul, maka sepatutnya anda merasa khawatir atas kualitas
tawakkalmu. Karena Al Qur'an menjamin bahwa way out itu pasti keluar kalau
kita tawakkal kepada Allah. Atau ada kemungkinan lain bahwa ayat Al Qur'an
tentang itu yang bohong. PILIH MANA ???
Akan tetapi kadang-kadang bisa juga prosesnya menjadi terbalik. Gazhalian
dulu baru Rusdian. Ada orang karena proses keterwakilannya kepada Allah
sudah sedemikian tinggi, setiap saat dia menjadi "bayi", maka lalu keluar
juga logika atau way out. Kadangkala logika yang muncul melompat ke depan
melampaui kekinian peristiwa. Misalnya begini. Beberapa BULAN sebelum Gus
Dur jadi presiden ada teman kami yang mengatakan: "Gus Dur jadi presiden
nggak lama lagi". Teman-teman yang lain hanya tertawa saja. Karena walau
di-gatuk-kan dengan logika apapun nggak bakal kena kalau orang seperti Gus
Dur bisa jadi presiden. Tapi sejarah lalu membuktikan bahwa saat mana
siapa-siapa nggak diterima rakyat jadi presiden, saat mana Megawati tidak
diterima karena alasan gender, saat Amin Rais tidak diterima karena
dianggap tidak matang, saat Habibi tidak diterima juga karena dianggap
kroni Soeharto, semua jalan menjadi buntu dan nyaris "berkuah darah" (he he )
saya senang istilah ini). Logika buntu. Akan tetapi, duuaaar... muncul
Gus Dur jadi presiden. Semua bisa menerima dan kebuntuan bisa dicairkan.
Dalam perjalanan waktu baru keluar logika-logika bahwa Gus Dur ternyata
hanya bertugas sebagai pemimpin "JEDA" saja yang bertugas meredakan
ketegangan yang ada. Buktinya begitu Gus Dur dilengserkan juga, maka semua
lalu bisa menerima Megawati jadi presiden tanpa berdarah-darah amat.
Sebelumnya perempuan difatwa haram menjadi presiden. Eh... akhirnya kan
diterima juga. Suka-sukamulah membuat fatwa. Masalah kemudian hari bahwa
Megawati juga hanya bersifat pemimpin "antara", akhirnya juga terbukti,
sehingga pasca Megawati, ternyata dengan mulus muncullah SBY yang tidak
terduga sama sekali dalam percaturan perpolitikan.
Contoh real yang lebih hebat adalah saat Rasulullah diberi tahu dalam Al
Qur'an: "Ghulibaturruum.
Romawi masih jaya-jayanya, tetapi ayat itu mengatakan "sudah terjadi". Duh
luar biasa memang Rasulullah itu.
Akan tetapi perlu mendapatkan perhatian bahwa makhraja yang melampaui
kekinian peristiwa itu TIDAK bisa dijadikan generalisasi HUKUM.
Nah untuk sampai kepada tujuan penggabungan dualitas diatas, diperlukan
langkah-langkah, antara lain:
Anda harus sudah TIDAK punya hambatan atau halangan dengan perbedaan
pemahaman masalah-masalah fiqih, hukum, syariat. Silahkan jalani apa-apa
yang sesuai dengan yang anda percayai dan sukai. Tapi jangan anda
coba-coba "menggiring" orang lain agar sama dan sebangun dengan anda.
Jangan coba-coba menyeragamkan orang. Al Qur'an sendiri sudah menjamin
TIDAK akan bisa. Kalau anda masih punya keinginan untuak menyeragamkan
orang, maka itu namanya "BUANDEEEL..
Penghancuran paradigma berfikir yang ada dan sudah karatan karena sudah
berusia ribuan tahun. Dengan membaca tulisan ini secara tidak sadar
wacanais sebenarnya sedang mengalami pencucian otak untuk meninggalkan
paradigma lama (paradigma terkotak-kotak) menjadi paradigma baru
(paradigma fitrah, universal). Kalau anda terpengaruh, tersengat,
terkaget-kaget, kalang kabut tapi kehabisan kata-kata penyanggahan.
ya salah sendiri kenapa baca tulisan ini, berarti anda memang masih
berada dalam paradigma lama. Ah.. nggak terpengaruh tuh, enjoy saja saya
membacanya..
paradigma baru itu, anda sudah tidak terkotak-kotak lagi.
Kalau masalah hukum, masalah pemahaman syariat yang berbeda-beda sudah
tidak menjadi penghalang lagi, maka baru kau bisa melangkah mengenali
Tuhan-mu sedemikian rupa sehingga anda benar-benar tidak bisa mengelak
lagi dari keterikatan "binding" kepada ALLAH saja. Sudahkan metoda yang
anda punya sekarang ini sesuai dengan ilmu yang ada pada anda kondisi
ini bisa tercapai..??
alam semesta dan sesama. Abu Sangkan and his gang juga punya metoda.....
4. Setelah Tuhan ketemu (bukan kira-kira lagi, bukan mengawang-ngawang
lagi), lalu berpegang teguh kepada-Nya (binding), maka selanjutnya
TERSERAH ANDA. Jalani sajalah posisi (maqam) anda sesuai fitrah anda.
Kalau fitrahnya bisanya hanya sebagai OPERATOR, maka janganlah pikirkan
fitrahnya DIRUT (ini dalam pengertian yang luas lho, bukan hanya
perusahaan). Jalani saja dengan konsistensi yang tinggi. Tapi jangan
lupa naikkan kesadaran ke yang Maha Luas, be universal. Maka insyaalllah
rahmat Tuhan itu akan datang buat anda. Kalau tidak begitu maka
insyaallah siksa Tuhan yang akan anda rasakan.
Sekali lagi maunya Al Qur'an itu bagaimana:
"Al Qur'an menginginkan berfikir habislah seperti orang atheis sehingga
ketemu logika-logika , way out yang FITRAH, tapi sekaligus HARUS
menemukan TUHAN juga. Kalau hanya atheis saja, kan mereka TIDAK ketemu
Tuhan. Di akhir logika, si atheis, mereka hanya mengatakan "ma khalaqta
hadza bathila, O.... ini ada manfaatnya", mereka sampai disini saja.
Mereka nggak ketemu "rabbana....
"subhanaka..
Atau kalau engkau mulai hidupmu dengan TAWAKKAL, dekat dengan Tuhan,
artinya sudah ketemu Tuhan duluan, maka kemudian coba lihat keluar nggak
logika-logika (tapi syaratnya HARUS jauh dari ABSURDITAS), diberi nggak
way out atas masalah-masalah anda....Indah memang Al Qur'an itu.
Sekarang terserah anda, free will........
HABIS...
Bagaimana fungsi IKHTIAR dalam rasionalis dan fatalis.....
Bagaimana dengan CINA......??
Ntar ini ketemu di topik lain
DEKA